Pada kala dua persalinan, yaitu fase ketika bayi akan segera dilahirkan, tubuh ibu secara fisiologis akan melakukan adaptasi spontan dengan mencari posisi yang paling nyaman dan paling efektif untuk memfasilitasi proses kelahiran. Respons ini merupakan bagian dari mekanisme persalinan fisiologis yang bertujuan mengoptimalkan kerja kontraksi uterus, upaya mengejan, serta keseimbangan antara kebutuhan ibu dan janin.
Dalam praktik klinis, ketika ibu berada pada posisi terlentang di tempat tidur, sering muncul dorongan refleks untuk mengubah posisi, seperti keinginan untuk turun dari tempat tidur atau memilih posisi duduk. Respons ini bukanlah perilaku acak, melainkan merupakan reaksi fisiologis tubuh terhadap perubahan biomekanik dan hemodinamik selama persalinan.
Berbagai laporan pengalaman ibu menunjukkan bahwa posisi terlentang dapat menimbulkan ketidaknyamanan, rasa sesak, hingga gangguan pernapasan. Kondisi ini berkaitan dengan tekanan uterus gravid terhadap diafragma, yang berpotensi membatasi ekspansi paru serta memengaruhi efisiensi respirasi dan sirkulasi. Sebagai kompensasi, tubuh ibu secara refleks berusaha mencari posisi yang lebih tegak guna mengoptimalkan fungsi pernapasan, perfusi, dan kenyamanan maternal.
Posisi duduk, meskipun dalam praktik masih sering dipersepsikan sulit atau kurang praktis oleh pihak yang belum terbiasa, pada kenyataannya menjadi lebih mudah, aman, dan efektif bagi ibu yang telah mendapatkan persiapan serta pendampingan yang adekuat. Selain itu, posisi ini lebih optimal ketika diterapkan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi dan pengalaman dalam mendampingi persalinan fisiologis.
Secara fisiologis, persalinan tidak harus selalu dilakukan dalam posisi berbaring. Dalam posisi duduk, orientasi tubuh ibu yang lebih tegak memungkinkan peran gravitasi dalam membantu penurunan janin secara alami. Posisi ini juga mendukung peningkatan diameter panggul, sehingga memfasilitasi mekanisme rotasi dan penurunan kepala janin, serta memungkinkan upaya mengejan bekerja lebih efektif dan terkoordinasi.
Sejumlah ibu melaporkan bahwa posisi duduk memberikan tingkat kenyamanan yang lebih baik, relaksasi yang meningkat, serta kontrol yang lebih besar terhadap tubuh dan proses persalinan. Kondisi ini berkontribusi terhadap pengalaman persalinan yang lebih positif dan berpotensi mendukung kemajuan persalinan secara fisiologis.
Meskipun demikian, pemilihan posisi bersalin harus tetap mempertimbangkan kondisi klinis ibu dan janin, serta dilakukan dengan pendampingan bidan yang memahami prinsip keselamatan, fisiologi persalinan, dan pengambilan keputusan berbasis bukti.
Pada akhirnya, setiap ibu memiliki hak untuk memperoleh informasi yang adekuat dan memilih posisi bersalin yang paling nyaman, aman, dan sesuai dengan kondisi dirinya, sebagai bagian dari pelayanan kebidanan yang berfokus pada perempuan (woman-centered care).
Sebagai upaya peningkatan literasi persalinan fisiologis, Bidan Nova berkomitmen untuk terus membagikan edukasi mengenai proses persalinan, bahwa melahirkan tidak terbatas pada posisi berbaring terlentang. Dalam kebidanan dikenal tujuh posisi bersalin, namun dalam praktik pelayanan sehari-hari, variasi posisi ini masih jarang diinformasikan dan belum selalu ditawarkan sebagai pilihan kepada ibu bersalin.